Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Januari 2015

SABAR,BERSYUKUR DAN IKHLAS.



Berbicara tentang SABAR berkaitan erat dengan SYUKUR, dengan bersyukur kita akan berusaha untuk bersabar atas ketetapan-ketetapanNya. Allah Maha Agung, Dia akan memberikan kebaikan kepada yang dikehendakiNya, dan keburukan kepada yang dikehendakiNya, dan orang-orang yang bersabar adalah orang-orang yang beruntung. Sabar tidak hanya pada kesulitan tetapi juga kita dituntut untuk bersabar dalam menghadapi kebahagiaan, karena sesungguhnya batasan antara sedih dan bahagia itu sangatlah tipis. Sungguh demikian, hanya sedikit orang yang menyadarinya, sebagian besar manusia akan menangis dan mencari Tuhannya ketika dia tersungkur, sedangkan ketika Tuhan memberikan cobaan dengan kegembiraan, mereka menganggap "ITU KARENA USAHAKU, BUKAN KARENA DOAKU." betul... itu semua karena usaha kita, tapi apa yang akan terjadi jika Allah menjungkir balikkan semua usaha kita...? apakah kita akan tetap berdiri..?? sungguh sombong orang-orang yang enggan bersyukur, dan sangatlah merugi orang-orang yang mengeluh.

Gambaran tentang manusia seperti itu ternyata sudah ada dalam Kitabullah Al-Qur'an, : "Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberiNya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku", Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku", Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan berlebihan." (Qs. Al - Fajr 15-20), Rosulullah Saw bersabda: "Kecintaan kamu terhadap sesuatu membuatmu tuli dan buta." (HR Abu Dawud). Oleh sebab itu mulailah bercermin, apa yang telah kita lakukan...?? dan mulailah bersyukur atas karunianya, dan menerima dengan sabar atas semua ketetapannya, karena yang demikian termasuk kedalam orang-orang yang beruntung.

Terkadang kita lupa akan kalimat "SYUKUR" padahal dengan bersyukur Allah akan melipat gandakan nikmatnya. Selalunya kita mengingat Allah ketika kita tersungkur, dan selalu kita melihat ke atas, padahal di depan mata kita sendiri terlihat nikmat Tuhan yang tidak ternilai harganya. Lihatlah orang yang dibawahmu, jangan lihat orang yang diatasmu. Dengan begitu maka kamu tidak menganggap kecil terhadap nikmat Allah yang kau terima. Cobalah mulai menghitung nikmat Tuhan, maka kita akan terhenyak, dan apakah kita bisa membalas semua itu. Sayangnya kita lebih banyak mengeluh dibandingkan dengan bersyukur. Karena sesungguhnya jika kita berikan nyawa kita pun tidak akan bisa membayar semua nikmat yang Allah berikan. Diriwayatkan dari Shuhaib ra, dia berkata : Rasulullah Saw pernah bersabda, "Sungguh menyenangkan orang mukmin itu! Segalanya serba baik, dan begitu itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika dia mendapat kesenangan dia bersyukur, dan jika dia mendapat kesengsaraan dia bersabar, sehingga apa yang dihadapinya selalu mendatangkan kebaikan baginya." (HR Muslim).


Setelah kita BERSYUKUR atas semua pemberianNya dan BERSABAR atas semua ketetapannya, dengan demikian mulailah untuk IKHLAS untuk menerima dan menjalankan semua kehidupan ini hanya untuk Allah. "Jika ada pertanyaan : "Setelah Syukur, manakah yang harus didahulukan, SABAR atau IKHLAS ?" Ikhlas dan Sabar itu akan sejalan, seseorang yang belajar Ikhlas, maka dia juga akan belajar Sabar, begitupun sebaliknya. Sangat sulit sekali untuk belajar SYUKUR, IKHLAS, dan SABAR. Kita dituntut untuk Ikhlas dalam memberi dan dalam menerima, Ikhlas ketika kehilangan dan ketika kita menemukan, Ikhlas dalam segala hal yang telah kita terima, dan Ikhlas menjalankan hidup ini hanya mengharap Ridho Sang Pencipta. "Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakan dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya." (Qs. Albaqarah 286).
Jika kita mengetahui besarnya kasih sayang Allah kepada kita, maka tidaklah sulit untuk memulai belajar untuk Bersyukur, Bersabar dan Ikhlas. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah Saw bernah bersabda : "Ketika Allah menciptakan mahluk, Dia menulis dalam kitabNya diatas Arsy yang pasti akan dilaksanakanNya, Sesungguhnya kasih sayangKu mengungguli murkaKU." (HR Bukhari), dan janji Allah tidak pernah bohong, lalu bagaimana kita mempelajarinya ? dengan menggunakan pedengaran, penglihatan dan hati. Allah memberikan itu semua agar kita belajar akan kehidupan ini, agar kita memahami maksud yang tersirat dari kehidupan ini, agar kita bisa merasakan Kebesaran Sang Pemilik Dunia ini, dan agar kita termasuk kedalam orang-orang yang bertakwa.
Dan bagaimana jika kita mengabaikan semua itu ? "... mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Qs. Al-A'raf 179). Ayat-ayat dalam arti disini bukan hanya ayat-ayat Al-Qur'an, tapi juga ayat-ayat kehidupan. Selain itu juga, bagi manusia-manusia yang bertakwa Allah menjanjikan kemudahan dalam kehidupan dan surga akan menunggunya kelak, tapi bagi manusia-manusia yang bakhil dan merasa dirinya cukup dan mereka merasa tidak memerlukan bantuan Allah, " Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar, dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa. " (Qs. Al-Lail 10-11). Karena " Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran." (Qs. Al- Ashr 2-3).

Selasa, 25 November 2014

KEMBALI KEPADA ALLAH (AL INABAH )

Seperti yang sudah engkau ketahui, bahwa siapa yang berada di tempat persinggahan taubat, berarti dia berada di seluruh tempat persinggahan Islam, sebab taubat sudah meliputi segalanya. Tapi bagaimana pun juga tempat-tempat persinggahan yang lain ini perlu rincian dan perlu disebutkan, agar ada kejelasan hakikat, kekhususan dan syarat-syaratnya.
Jika kaki seorang hamba sudah mantap berada di tempat persinggahan taubat, maka setelah itu dia beralih ke tempat persinggahan “Inabah” (kembali kepada Allah). Allah telah memerintahkan inabah ini di dalam Kitab-Nya, seperti firman-Nya, “Dan, kembalilah kalian kepada tuhanmu.” (Az-Zumar: 54).
Allah juga mengabarkan bahwa yang mau mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah dan menjadikannya sebagai peringatan adalah orangorang yang kembali kepada-Nya, “Maka apakah mereka tidak melihat langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun? Dan, Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunungyang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (kepada Allah).” (Qaf: 6-8).
Allah juga mengabarkan bahwa pahala dan surga-Nya diberikan kepada orang-orang yang takut dan kembali kepada-Nya, “Dan, didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepada-mu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya), yaitu orang yang takut kepada Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (oleh-nya) dan dia datang dengan hati yang kembali (kepada Allah). Masukilah surga itu dengan aman.” (Qaf: 31-34).
Allah juga mengabarkan bahwa kabar gembira hanya diberikan kepada orang-orang kembali kepada-Nya, “Dan, orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira.” (Az-Zumar: 17).

Sabtu, 14 September 2013

COBALAH UNTUK BERSABAR...KEMUDIAN TAWAKALLAH.....


BANYAK yang berpenampilan indah tetapi terhina, sebab dia tidak punya kesabaran. Banyak orang yang akhirnya merugi, padahal dia memiliki modal. Apa sebabnya? Dia tidak mempunyai kesabaran. Banyak orang yang tergelincir ketika dilanda asmara dan tidak sabar, akibatnya ia merasakan sakit. Alangkah indahnya orang-orang yang diberi kesabaran.

Innallaha ma’ash shaabiriin. Sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar. (Q.S. Al-Baqarah [2]:153).

Sabar itu pahalanya insya Allah tiada terputus. Maka, sungguh aneh jika kita ingin dekat dengan Allah, ingin indah, ingin berpahala, ingin bahagia tetapi tidak sabar. Sabar itu kunci. Kalau kita bersabar, kita akan memiliki pribadi yang indah. Kalau selalu sabar, kita akan menjadi orang yang dekat dengan Allah dan insya Allah ganjaran kita tiada terputus.

Setidaknya ada tiga hal yang memerlukan kesabaran kita dalam hidup ini. Yang pertama, sabar ketika berkeinginan. Setiap hari kita selalu dituntun oleh keinginan. Kalau kita tidak sabar, keinginan inilah yang akan menjerumuskan kita. Jadi, sabar yang pertama adalah meluruskan niat ketika kita punya keinginan.

Kita dikarunia Allah keinginan. Keinginan itulah yang menuntun sikap; kalau tidak sabar, kita kehilangan niat. Padahal niat adalah kunci agar amal diterima. Ada orang yang lelah pontang-panting, tetapi tidak ada nilainya. Mengapa? Dia tidak sabar meluruskan niat. Maka, sebelum beramal, wajib bagi kita untuk meluruskan niat. Tanpa niat, amal menjadi sia-sia.

Terkadang, seseorang tidak sibuk meluruskan niat. Akan tetapi ia sibuk dengan perbuatannya. Misalnya, ia ingin membeli pakaian. Kita harus bertanya dulu pada diri sendiri, “Perlukah saya membeli pakaian lagi, padahal di lemari masih banyak pakaian?”, “Untuk Apa?”, “Tapi kan ini warnanya kurang cocok. Kurang cocok kata siapa?”

Untuk apa memberatkan hisab, kalau pakaian indah, tetapi kelakuan tidak indah? Tidak ada gunanya. Ketika akan membeli, tanyakan lagi pada diri kita, “Benarkah kita membeli sesuatu itu karena Allah atau karena ingin dipuji?”

Ingin menikah? kita harus sabar untuk mengevaluasi dulu. Kumpulkan informasi dan studi kelayakan. Sudah layakkah kita menikah? Jangan tergesa-gesa, renungkan dalam-dalam, kumpulkan informasi selengkap mungkin. Bertanyalah kepada yang ahli, sebab kalau kita sudah punya keinginan, itu biasanya nafsu. Hati-hati, nafsu akan membutakan kita dari kebenaran. Kita harus sabar untuk bertanya, “Benarkah niat saya ini? Betulkah tujuan saya? Mintalah petunjuk kepada Allah dengan shalat istikharah.

Lalu, hal kedua yang harus kita miliki adalah sabar berproses. Kita biasanya tidak sanggup untuk berproses. Kita harus menikmati proses, bukan hasil. Dari proses itu, insya Allah akan berbuah pahala.

Kesabaran yang ketiga adalah sabar ketika telah mendapat hasilnya. Hasil itu ada dua jenis, yaitu gagal dan sukses. Keduanya butuh kesabaran. Sudah niat ingin kerja, ikhtiar melamar ke sana-sini, kita harus sabar jika kita belum diterima. Setiap langkah kita insya Allah ada pahalanya. Mungkin memang belum ada rezekinya di sana, kita tidak usah sibuk mengeluh.

Lalu rezekinya di mana? Mungkin memang rezeki kita bukan jadi seorang pekerja tetapi menjadi seorang pengusaha yang menjadi direktur utama, merangkap direktur inti dan karyawan tunggal.

Ikhwan sudah melamar lalu ditolak. Apakah dia gagal? Tidak! Justru keberhasilannya adalah ditolak. Ini berarti dia mempunyai pengalaman ditolak. Misalnya, dia sudah pernah ditolak tiga kali. Dengan begitu, dia sudah berpengalaman menghadapi tiga jenis calon mertua. Harus sabar menghadapinya karena mungkin belum menjadi jodohnya. Niatnya untuk melamar, sudah menjadi amal. Perjalanannya, usahanya untuk bicara baik-baik dengan calon mertua sudah menjadi amal. Bila kemudian hasilnya ditolak, — jika kita sabar — maka menjadi nilai amal juga.

Kegagalan itu adalah ketika kita tidak sabar menghadapi sesuatu hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Kita punya rencana, Allah juga punya. Yang akan terjadi adalah rencana Allah, kenapa Allah menakdirkan sesuatu lalu kita anggap gagal? padahal itu yang terbaik.

Tidak heran seseorang dibimbing Allah dengan sakit, penolakan, hinaan, semua itu bisa menjadi sebuah jalan bagi dia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Oleh karena itu, kita harus sabar menghadapi sesuatu yang tidak cocok dengan keinginan kita.

Tawakal

Ada sebuah cerita tentang seorang Baduwi yang meninggalkan untanya saat beristirahat di suatu tempat, tanpa mengikatkan talinya pada sebuah tiang. Singkat cerita, saat ia kembali untuk melanjutkan perjalanan, ternyata untanya tidak berada di tempat semula. Kontan saja ia panik setengah mati. Orang-orang sekitar mengerumuninya karena suara yang memekik memanggil unta yang kabur. “Untaku… untaku…! Ke mana untaku…?”

Sambil mencari ke sana-sini, ia meyakinkan dirinya bahwa terakhir kali ia melihat untanya di halaman bersama unta-unta lainnya. Ia yakin bahwa ia telah mempercayakan untanya pada Allah. Ia yakin untanya tak akan kabur karena Allah yang akan menjaganya. Oleh karena itu, ia tidak berusaha untuk mengikatkan talinya pada tiang yang telah tersedia sebab ia merasa telah menyerahkan segalanya pada Allah SWT. Atau lebih dikenal dengan istilah tawakal.

Apakah sikap tawakal orang Baduwi seperti itu benar? Keyakinan kuat tanpa diiringi ikhtiar adalah kurang sempurna. Demikian pula ikhtiar maksimal tanpa keyakinan hati kepada Allah adalah sia-sia. Tawakal yang benar adalah didasari oleh keyakinan kepada Allah bahwa Allah-lah yang mengatur segalanya dan disempurnakan dengan ikhtiar maksimal. Allah yang mengatur rezeki. Maka manusia harus berusaha untuk mendapatkannya dengan cara yang benar. Semua nikmat yang telah Allah berikan harus disyukuri dan hanya kepada-Nya orang-orang beriman bertawakal (Q.S. Al-Maaidah [5 ]: 11).

Adanya kemampuan untuk ikhtiar, merupakan nikmat besar yang telah Allah berikan. Sesungguhnya, Allah telah menetapkan ketentuan untuk segalanya. Allah tidak akan menguji seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Salah satu tanda kemuliaan seseorang adalah, adanya keikhlasan dalam melakukan sesuatu, dan disempurnakan dengan ikhtiar. Selanjutnya, ia menyerahkan segala usaha dan urusannya kepada Allah. Itulah tawakal yang sebenarnya.

Bertawakal kepada Allah dengan sepenuh hati tidak dilarang. Bertawakallah selalu kepada-Nya dengan syarat ia ikhlas dan melakukan ikhtiar. Bukan sikap tawakal seperti kisah Baduwi tadi. Tawakal tetapi tidak berusaha dan hanya ongkang-ongkang kaki mengharapkan hasil yang memuaskan, bukanlah sikap mukmin sejati. Tawakal seperti itu identik dengan pasrah tanpa melakukan apa-apa! Wallahu a’lam bishawaab (MAJELIS RATIB DAN MAULID HABIB ABU BAKAR BIN ALWI ALHABSY )

Kamis, 20 Desember 2012

KISAH SEORANG TUKANG SOL SEPATU



Cuaca hari ini sangat-sangat panas.Mbah Sarno terus mengayuh sepeda tuanya menyisir jalan perumahan Condong Catur demi menyambung hidup.
Mbah Sarno sudah puluhan tahun berprofesi sebagai tukang sol sepatu keliling.
Jika orang lain mungkin berfikir "mau nonton apa saya malam ini?".
Mbah Sarno cuma bisa berfikir "saya bisa makan atau engga malam ini"?.

Di tengah cuaca panas seperti inipun terasa sulit baginya untuk mendapatkan pelanggan.
Bagi Mbah Sarno, setiap hari adalah hari kerja.
Dimana ada peluang untuk menghasilkan rupiah, disitu dia akan terus berusaha.
Hebatnya, beliau adalah orang yang sangat jujur. Meskipun miskin, tak pernah sekalipun ia mengambil hak orang lain.

Jam 11, saat tiba di depan sebuah rumah di ujung gang, diapun akhirnya mendapat pelanggan pertamanya hari ini.Seorang pemuda, usia 20 tahunan, terlihat sangat terburu-buru.
Ketika Mbah Sarno menampal sepatunya yang bolong, ia terus menerus melihat jam. Karena pekerjaan ini telah digelutinya bertahun-tahun, dalam waktu singkat pun ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya.

" Wah cepat sekali.
Berapa pak?"

"5000 rupiah mas"

Sang pemuda pun mengeluarkan uang seratus ribuan dari dompetnya.
Mbah Sarno jelas kaget dan tentu ia tidak memiliki uang kembalian sama sekali apalagi pemuda ini adalah pelanggan pertamanya hari ini.

" Wah mas gak ada uang pas ya?"

" Nggak ada pak, uang saya tinggal selembar ini, belum dipecah pak"

" Maaf mas, saya nggak punya uang kembalian"

" Waduh repot juga kalo gitu. Ya sudah, saya cari dulu sebentar pak di warung depan"

" Sudah mas, nggak usah repot-repot. Mas bawa dulu saja.
Saya perhatikan mas lagi buru-buru.
Lain waktu saja mas kalau kita ketemu lagi"

" Oh syukurlah kalo gitu. Ya sudah makasih ya pak."

Jam demi jam berlalu dan tampaknya ini hari yang tidak menguntungkan bagi Mbah Sarno.
Dia cuma mendapatkan satu pelanggan itupun belum membayar.
Ia terus menanamkan dalam hatinya, " Ikhlas bekerja dan tak berputus asa, Insya Allah akan terbuka jalan."

Waktu menunjukan pukul 3 lebih ia pun menyempatkan diri shalat Ashar di Masjid depan lapangan bola sekolah. Selesai shalat ia berdoa.

" Ya Allah, izinkan aku mencicipi secuil rejekiMU hari ini.
Hari ini aku akan berusaha, selebihnya adalah kehendakMU."
Selesai berdoa panjang, ia pun bangkit untuk melanjutkan pekerjaannya.

Saat ia menuju sepedanya, ia kaget karena pemuda yang tadi siang menjadi pelanggannya telah menunggu disamping sepedanya.

" Wah kebetulah kita ketemu disini, Pak. Ini bayaran yang tadi siang pak".

Kali ini pemuda tadi tetap mengeluarkan uang seratus ribuan, bukan hanya satu lembar tetapi lima lembar.

" Loh loh mas. Ini belum mecahin uang ya. Maaf mas saya masih belum punya kembalian. Ini juga kok lima lembar mas. Ini nggak salah ambil mas.?"

" Sudah pak terima saja. Saya sudah diterima tadi, pak.
Alhamdulillah hari ini saya tes wawancara, dan Allah menolong saya. Telat 5 menit saja saya sudah gagal pak. Untung bapak membiarkan saya pergi dulu. Insya Allah minggu depan saya berangkat ke Prancis pak. Saya mohon doanya ya."

Tak kuasa menahan haru yang sangat, Mbah Sarno tersengguk menangis.
Terimakasih ya Allah atas rejekiMU hari ini. Sungguh benar Engkau begitu dekat.

Sumber Page FB : BERANDA KITA.

Rabu, 19 Desember 2012

JANGAN BERHARAP


Jangan berharap disayang dan dikasihi,
Bila tak punya rasa belas kasihan pada sesama.

Jangan berharap sukses,
Bila tak ada usaha, ikhtiar, gigih, pantang putus asa dan tawakkal.

Jangan berharap kaya,
Bila tak ada syukur dan kesabaran.

Jangan berharap mendapat ilmu,
Bila tak ada kesulitan dan kesusahan mencarinya.

Jangan berharap pikiran cerdas dan pandai,
Bila tak menjauh dari perkara subhat dan haram.

Jangan berharap untung,
Bila tak ada pengorbanan.

Jangan berharap beranak shalih shalihah,
Bila tak ada kebaktianmu pada orang tuamu dan Tuhanmu.

Jangan berharap surga,
Bila tak ada keikhlasan dalam beramal.

Jangan berharap jauh dari neraka,
Bila tak ada keinginan menjauh dari maksiat dan dosa.

IBU




Ibu adalah seseorang yang SERBA TIDAK TAHU. Ibu adalah seorang yang tidak tahu malu, TIDAK TAHU MALU saat bekerja keras demi anaknya.

Ibu adalah seorang yang TIDAK TAHU SAKIT, tetap senyum setelah merasa sakit saat melahirkan kita kedunia.

Ibu adalah seorang yang TIDAK TAHU LELAH, tetap senyum setalah lelah saat seharian menggendong kita.

Ibu adalah seorang yang TIDAK TAHU CAPEK, tetap senyum meskipun setiap pagi siapin kebutuhan kita.

Ibu adalah seorang yang TIDAK TAHU BAHAYA, apapun di terjang demi anaknya.

Ibu adalah seorang yang TIDAK TAHU MALAM, lupa tidur saat menyusui kita.

Ibu adalah seorang yang TIDAK TAHU LAPAR, rela tidak makan asal kita makan.

Ibu adalah seorang yang TIDAK TAHU SAKIT HATI, tetap senyum meskipun kita menjengkelkan.

Ibu adalah seorang yang TIDAK TAHU WAKTU, masih muda atau sudah tua tetap menyayangi kita.

Ibu adalah seorang yang TIDAK TAHU HITUNGAN, tidak pernah menghitung berapa biaya untuk membesarkan kita.

Ibu adalah seorang yang TIDAK TAHU MENYERAH, tetap mencari akal supaya kita tumbuh dengan layak.

Ibu adalah seorang PENAKUT, dia takut anaknya tidak bahagia.

Ibu adalah seorang yang PEMARAH, marah kalau anaknya disakiti.

Itulah keajaiban kasih sayang Ibu kepada Kita, bersimpuhlah kepadanya dan nyatakan cintamu. Tak perlu menunggu momen hari ibu.

Template by : kendhin x-template.blogspot.com