Kelenteng Boen San Bio adalah sebuah kelenteng unik megah berusia tua di Jl. Pasar Baru, Kelurahan Kranjaya, Karawaci, Tangerang yang dipergunakan sebagai tempat beribadah bagi penganut Kong Hu Cu, Tao dan Buddha.Kelenteng Boen San Bio, yang juga dikenal dengan nama Vihara Nimmala, lokasinya berada di Jl. Pasar Baru, Kelurahan Kranjaya, Karawaci, Tangerang.
Halaman samping Kelenteng Boen San Bio cukup luas, dan mampu menampung beberapa puluh kendaraan. Dalam beberapa tahun terakhir ini, kabarnya Kelenteng Boen San Bio telah memecahkan 11 rekor MURI, diantaranya dengan menegakkan 1.150 telur dalam waktu hanya beberapa menit yang dilakukan oleh 108 orang.
Jika di atap kebanyakan kelenteng biasanya dijaga oleh patung sepasang naga yang berhadapan, maka yang unik di Kelenteng Boen San Bio adalah atap kelenteng dijaga oleh sepasang burung Fenghuang (burung api, Phoenix) yang indah, dengan sebutir mutiara diantara keduanya.
Burung Fenghuang (Phoenix) adalah burung mitos yang tidak pernah mati, karena jika telah berusia tua ia akan membakar dirinya sendiri dan dari abunya akan terlahir kembali burung Phoenix yang muda.
Fenghuang konon tercipta dari paruh ayam jantan, muka burung walet, kening burung, leher ular, dada angsa, punggung kura-kura, bagian kaki belakang dan pinggang rusa jantan, dan ekor ikan. Tubuhnya melambangkan enam benda langit, yaitu kepala adalah langit, mata adalah matahari, punggung adalah bulan, sayap adalah angin, kaki adalah bumi, dan ekor melambangkan planet-planet. Sayapnya memiliki lima warna dasar: hitam, putih, merah, biru dan kuning.
Sebuah patung Singa dengan dua ekor anaknya yang ditugaskan untuk menjaga halaman depan Kelenteng Boen San Bio.
Sebuah Hiolo (tempat meletakkan batang hio yang telah dibakar) yang terbuat dari bahan sejenis batu marmar. Lazimnya, kebanyakan kelenteng memiliki berbagai jenis hiolo dengan berbagai ornamen yang terbuat dari besi atau kuningan.
Arca Co Su Kong dengan topi 5 warna Buddha dan mengenakan jubah (Jia Sha) di salah satu altar di Kelenteng Boen San Bio. Co Su Kong, panggilan akrab bagi Ching Cui Co Su, adalah Dewa Pelindung para imigran yang berasal dari Coan Ciu. Ia lahir di pegunungan Feng Chai Shan, Kabupaten Qing Xi, Propinsi Fujian pada tanggal 6 bulan 11 Imlek, tahun 1044 M, pada masa pemerintahan Kaisar Ren Zhong tahun keempat, dari DInasti Song (960 – 1279).
Arca Hok Tek Tjeng Sin, Dewa Bumi yang banyak dipuja para pedagang dan petani, di Kelenteng Boen San Bio.
Bedug dan tambur di Kelenteng Boen San Bio yang biasa ditabuh saat berlangsung upacara dan arak-arakan.
Arca Buddha Sakyamuni yang juga disebut Jie Lay Hud di Kelenteng Boen San Bio.
Patung Dewi Kwan Im setinggi sekitar 3 meter yang letaknya berada di bagian belakang Kelenteng Boen San Bio, di depan ruang Dhammasala yang merupakan tempat utama umat Buddha untuk melakukan ibadah.
Pendopo Pecun di Kelenteng Boen San Bio. Pecun merupakan sebuah upacara tradisional Cina yang melambangkan penghormatan bagi jasad seorang tokoh berpengaruh yang tenggelam dan tewas di sebuah sungai di Cina. Pecun adalah sebuah upaya pencarian yang dilakukan dengan memakai perahu dayung. Perayaan Pecun digelar pertama kali di Tangerang pada tahun 1910.
Kelenteng Boen San Bio pertama kali dibangun pada tahun 1689 oleh seorang pedagang yang berasal dari Cina bernama Lim Tau Koen, dan ia menempatkan patung Kim Sing Kong-co Hok Tek Tjeng Sin yang dibawanya dari Banten. Kelenteng Boen San Bio mengalami beberapa kali renovasi sesudah itu, terutama setelah terjadi kebakaran pada tahun 1998. Bangunan Kelenteng Boen San Bio ini berbentuk empat persegi panjang, yang berdiri di atas tanah seluas 1.650 m2.
Labels
- Biografi (12)
- Computer (4)
- Film (4)
- Forex (4)
- Hikmah (8)
- News (13)
- NIDA99 CAKE (4)
- Peluang Usaha (16)
- Serba Serbi (13)
- Species (2)
- Travelling (8)
Feedjit
Infolinks In Text Ads
Senin, 12 Desember 2011
Kelenteng Boen San Bio
Diposting oleh
nida99
di
19.47
Label: Travelling
Senin, 11 Oktober 2010
Batu Karas
Diposting oleh
nida99
di
04.02
Label: Travelling
Minggu, 10 Oktober 2010
KASEPUHAN PALACE (CIREBON)

Palace has a museum which is quite complete and contains a collection of heirlooms and paintings of the kingdom. One of the sacred collection of trains Singa Barong. This train is no longer in use and only issued on every 1 Shawwal to be bathed.
Kasepuhan Palace was founded in 1529 by Prince Mas Mochammad Arifin II (grandson of Sunan Gunung Jati), which replaces the throne of the Sunan Gunung Jati in 1506. He lives in the Great dalem Pakungwati Cirebon. Keraton Keraton Pakungwati Kasepuhan formerly, while holding the title Prince Mas Mochammad Arifin Panembahan Pakungwati I. The name comes from the name of Queen Pakungwati Goddess Pakungwati bint who married Prince Cakrabuana Sunan Gunung Jati. He died in 1549 in the Great Mosque Sang Cipta Rasa in very old age. His name is perpetuated and glorified by Sunan Gunung Jati nasab as the name of the royal palace royal palace which is now called the Palace Pakungwati Kasepuhan. Before entering the gates of the palace complex Kasepuhan there are two of the pavilion, the west called Pancaratna who formerly was a gathering place of the palace courtier, headman or in contemporary times called the civil service. While the marquee to the east called Pancaniti which is where the officers of the palace when the holding of military exercises in the square.
Entering the palace complex way on the left there is a fairly tall building with solid brick wall around it. The building is named Siti inggil or in the language of his daily Cirebon is weak duwur the high ground. As its name suggests this building was very tall and looks like a temple complex in the time of Majapahit. The building was founded in 1529, during the reign of Sheikh Sharif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
In the front yard there inggil Siti rectangular stone table place to relax. This building is an outbuilding that was made in the 1800s. Siti inggil has two gates with the motive of the Majapahit era architectural style moment. At the north gate called Adi whereas in the south called the Gate Bull. Under this gate there is Candice Sakala Bull with Bull's writings Tinata Bata Kuta which if interpreted was in 1451.
saka which is the year of manufacture (1451 saka = 1529 M). Northern wall of the complex Siti inggil pristine while the south has ever experienced restoration / renovation. On the wall there inggil Siti complex wall plates and porslen-porslen originating from Europe and China by the year of manufacture 1745 AD Inside the complex there are 5 Siti inggil building without walls that has a name and its own function. The main building is situated in the middle named Malang Semirang with 6 units of the main pillars that symbolize the pillars of faith and if the aggregated total of 20 pillars that symbolize the fruit of 20 attributes of Allah SWT. This building is where the sultan saw military exercises or see the implementation of punishment. Building on the left side of the main building named Pendawa Lima with a number of pillars that symbolize the 5 pillars of Islam. This building where bodyguards sultan.Bangunan to the right of the main building named Semar Tinandu with 2 of the pole that represents the Two Sentence Creed. This building is where the Sultan's advisor / prince. Behind the main building named Mande Pangiring which is where the Sultan's entourage, while the adjacent building is the Mande Mande pangiring Karasemen, this place is the place accompanist tetabuhan / gamelan. In this building is still used to ring the Gamelan Sekaten (Gong Sekati), gamelan is only rung 2 times in a year ie at the time of Eid al-Fitr and Eid al-Adha. In addition there are 5 buildings without walls is also a kind of stone monument called Linga Yoni is the symbol of fertility. Linga means men and Yoni means female. The building is derived from Hindu culture. And on top of the wall around the complex Siti inggil have Candi Laras for harmonization of these inggil Siti complex.
Diposting oleh
nida99
di
01.52
Label: Travelling
Minggu, 03 Oktober 2010
Taman Laut Pangandaran
Pada awalnya Pasir Putih di jadikan rekreasi Taman Laut Hanya dengan menggunakan perahu, melihat-lihat terumbu karang hanya dari atas perahu saja, tetapi setelah terjadinya tsunami 2007 kawasan pasir putih ramai oleh para penyewaan Snorkling.
Bagi Anda yang tidak bisa berenang, jangan Khawatir di sana juga disediakan pelampung (life Jacket) serta di berikan pelatihan oleh orang yang menyewakan snorkling, jika Anda ingin lebih nyaman lagi disana juga tersedia kaki katak untuk melindungi kita dari karang- karang atau koral.
Untuk satu paket penyewaan snorkling biasanya di bandrol Rp. 20.000 samapi Rp.25.000 per orang, untuk mencapai ke sana Anda bisa menggunakan jasa perahu pesiar atau bisa jalan kaki saja.
Berbagai macam ikan hias terdapat di Taman Laut pasir Putih Diantaranya Spotfin Butterflyfish, Moorish Idol, Anemone Fish, dan banyak lagi.Selain Anda bisa menikmati Indahnya bawah Laut Pasir Putih, hamparan pasir yang putih sepanjang pinggir cagar alam juga bisa menjadi pemandangan yang indah.
Memang suatu pengalaman indah yang tidak akan terlupakan menghabiskan liburan di Pantai Pangandaran,cerita indah bersama orang terkasih, "kapan lagi saya kesana"...? mungkin itu yang akan terucap di kala kita sudah kembali ke tempat asal kita.
Diposting oleh
nida99
di
05.29
Label: Travelling
PANTAI BOJONG SALAWE
Jalan-jalan menikmati alam dengan tujuan adalah Pantai Bojong Salawe yang terdapat di desa Parigi Kabupaten Ciamis sungguh menyenangkan, walaupun keadaan alam yang sekarang sudah tidak alami seperti dulu lagi karena terkena bencana Tsunami tetapi tempat ini cukup memuaskan juga untuk melepas kepengatan setelah berkutat dengan Rutinitas sehari-hari.
Di pantai ini tidak terdapat pohon bakau tetapi banyak ditumbuhi pohon Dahon bahan baku untuk membuat atap dari daun dahon, dan daerah nyapun biasa disebut Kedung Dahon, entahlah apa nama lain dari dahin pada Bahasa Indonesianya.
Semua peralatan pun di buat dengan sederhana mulai dari atap yang tebuat dari pohon dahon tadi dan tiang-tiang penyanggapun menggunakan bambu, tetapi tidak bisa berkesempatan untuk mencoba tempat penangkapan hasil laut ini karena biasanya beropasi pada malam hari akhirnya memutuskan untuk melihat-lihat saja.
Waktu yang ditempuh untuk berputar-putar dan meilihat-lihat pantai ini cukup lama juga kisaran 1 sampai 2 jam, diterik panasnya sinar mentari dengan waktu yang cukup lama cukup untuk menbuat kita puas dan tidak bisa terhindarkan juga dari terbakarnya oleh sinar matahari dan membuat tangan dan muka coklat, lumayan juga seperti menikmati musim panas walaupun sih katanya sudah masuk musim penghujan.
Tempat jalan-jalan ini sebagai tempat alternatif selain objek wisata yang terkenal seperti Pantai Pangandaran, Batukaras, Batu hiu, karang Tirta, karang nini yang terdapat di daerah Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.
Diposting oleh
nida99
di
04.34
Label: Travelling
Senin, 20 September 2010
Green Canyon (Cukang Taneuh)
Green Canyon (Cukang Taneuh)
Green Canyon Indonesia ini terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Ciamis, Jawa Barat. Dari Kota Ciamis sendiri berjarak sekitar 130 km atau jika dari Pangandaran berjarak sekitar 31 km. Di dekat objek wisata ini terdapat objek wisata Batukaras serta Lapangan Terbang Nusawiru.
Objek wisata mengagumkan ini sebenarnya merupakan aliran dari sungai Cijulang yang melintas menembus gua yang penuh dengan keindahan pesona stalaktif dan stalakmitnya. Selain itu daerah ini juga diapit oleh dua bukit, juga dengan banyaknya bebatuan dan rerimbunan pepohonan. Semuanya itu membentuk seperti suatu lukisan alam yang begitu unik dan begitu menantang untuk dijelajahi.
untuk mencapai lokasi ini wisatawan harus berangkat dari dermaga Ciseureuh. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan menggunakan perahu tempel atau kayuh yang banyak tersedia di sana. Jarak antara dermaga dengan lokasi Green Canyon sekitar 3km, yang bisa ditempuh dalam waktu 30-45 menit. Sepanjang perjalanan kita akan melewati sungai dengan air berwarna hijau tosca. Mungkin dari sinilah nama Green Canyon berasal.
Begitu terlihat jeram dengan alur yang sempit yang sulit dilewati oleh perahu berarti sudah sampai di mulut Green Canyon, di mana airnya sangat jernih berwarna kebiru-biruan. Di sinilah awal petualangan menjelajah keindahan objek wisata ini dimulai. Dari sini wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke atas dengan berenang atau merayap di tepi batu. Disediakan ban dan pelampung bagi yang memilih untuk berenang. Meski harus menempuh cara seperti ini, perjalanan dijamin sepenuhnya aman. Bahkan untuk anak-anak 6 tahun ke atas cukup aman untuk menyusuri aliran sungai dengan menggunakan ban dan dipandu oleh pemilik perahu yang disewa.
Perjalanan akan terus berada dalam cekungan dinding terjal di kanan kiri aliran sungai. Dinding-dinding untuk menyajikan keindahan tersendiri, yang paling unik berbentuk menyerupai sebuah gua yang atapnya sudah runtuh. Selain itu di bagian atas beberapa kali pengunjung akan melewati stalaktit-stalaktit yang masih dialiri tetesan air tanah. Setelah beberapa ratus meter berenang, akan terlihat beberapa air terjun kecil di bagian kiri kanan yang begitu menawan. Jika diteruskan berenang maka pengunjung akan sampai pada ujung jalan, di mana terdapat gua yang dihuni oleh banyak kelelawar.
Alur aliran sungai ini cukup panjang, sehingga pengunjung dapat berenang sepuas-puasnya sambil mengikuti arus dari air terjun. Selain pemandangan indah di atas permukaan air, Green Canyon akan menjadi surga tersendiri bagi yang suka menyelam. Tinggal membawa beberapa alat selam, pemandangan menakjubkan cekungan-cekungan di dalam air siap untuk ditelusuri dan dinikmati, lengkap dengan beragamnya ikan-ikan yang berenang ke sana kemari di dasar lubuk. Bagi yang suka menantang adrenalin, dapat meloncat dari sebuah batu besar dengan ketinggian 5m ke dasar lubuk yang dalam.
Bagi Anda yang benar-benar ingin menikmati keindahan objek wisata Green Canyon harus paham dengan musim-musimnya. Karena saat terbaik untuk bisa menikmati keindahaan objek wisata ini adalah beberapa saat setelah masuk musim kemarau. Karena jika pada musim hujan, dikhawatirkan deras sungai dan warna airnya pun akan menjadi coklat.
Sebelum Anda memutuskan untuk ke Green Canyon, sebaiknya terlebih dahulu menyiapkan uang tunai yang cukup. Pasalnya, disana tidakada bank atau ATM. Untuk ATM, tempat penginapan dan fasilitas akomodasi yang lengkap bisa Anda dapatkan di Pangandaran.
Untuk akses berperahu, disana tersedia armada perahu yang cukup banyak. Ada sekitar 100 unit perahu yang dapat mengantarkan Anda untuk menelusuri objek wisata ini. Pada setiap perahu akan dilengkapi seorang juru dan tugas batu untuk memandu Anda dalam perjalanan.
Rute perjalanan yang harus ditempuh untuk menuju Green Canyon yaitu :
Dari JAKARTA dan BANDUNG,
Anda bisa mengikuti Rute Arah ke Jawa Tengah dengan melalui Kota Tasik-Ciamis Kota-Kota Banjar- Pangandaran.
Dari JAWA TIMUR dan JAWA TENGAH,
Untuk JAWA TIMUR anda dapat menuju Arah JAWA TENGAH terlebih dahulu, lalu dilanjutkan untuk mengambil jalur ke Jawa Barat dengan mengikuti jalur Arah (Purworejo-Kebumen-Wangon-Banjar- Pangandaran-Ciamis).
Bagi Anda yang menggunakan kendaraan umum, tentunya tidak usah repot memikirkan rute. Karena sopir akan membawa Anda Langsung ke Pangandaran(Green Canyon). Tapi yang perlu diperhatikan yaitu tempat Anda Menginap disana, anda bisa memilih penginapan yang terdapat di hotel-hotel yang tersedia banyak di Pangandaran atau bisa juga menginap di objek wisata Batukaras yang sangat berdekatan dengan Green Canyon. (untuk data informasi hotel anda bisa lihat pada list hotel yang tesedia di situs ini).
Selamat Menikmati Liburan Panjang dengan Keluarga Anda, Kunjungi dan Nikmati Potensi Objek Wisata Kabupaten Ciamis yang lain, yang tidak kalah menariknya dengan Green Canyon.
Diposting oleh
nida99
di
08.40
Label: Travelling
Kamis, 16 September 2010
CITUMANG PANGANDARAN
Citumang nature tourism object is a tourist attraction that has a special attraction, the river which flows Citumang teak forests with a translucent blue water. Riverside ornament consisting of Rock rocks decorated with niches in the natural relief and river flow that penetrates into the cave. The silence of nature you will encounter here. Music natural form of water gurgling river, the breeze whispers sneaking in among the trees and the sound satwahutan who never deserted. This tourist attraction is located in the Village District Bojong Ciamis Parigi to the location approximately 15 km from Pangandaran to the west. Or about 4 km from the highway Pangandaran – Cijulang. Distance from the city entirely Ciamis approximately 95 km.
Can be reached by public transportation Cijulang majors, followed by vehicle ojeg, spliced with a walk down by the river and gardens along 500 meters of the occupation.
Citumang the other side past the entrance, approximately 300 feet of travel you have to travel towards the destination point. Walking location, you need to know that the name comes from the legend Citumang about an alligator stump, Si Tumang. So strong was the belief of the population will cripple the kehadirna crocodile so far left a strong embedded into a river. Other versions Citumang story, comes from Cai (Bhs. Sunda = water) that passengers (passengers cai) is associated with river water flowing underground. Cai said passenger is a clear,waiting for long time turned into Citumang.
At a certain depth you can enjoy them with bathing and swimming. Five hundred meters from the location pamandian upriver, encountered the natural charm of the river flow Citumang into the bowels of the earth and out again in the downstream direction. Rivers which flow into the cave is named Goa Taringgul then given a new name as Sanghyang Tikoro (Batara Throat).
Citumang enjoy, not only to bathe and swim as much done this for foreign tourists, but can AndaAir Sanghyang Tikorolakukan out of other activities such as: to enjoy the atmosphere along the river, an adventure into the cave and enjoy the privacy in the midst of nature that is original, cool and exotic.
Tips When Visiting Citumang
Contribution of one just a cool place for Hunting Photos on the South Coast of West Java. Citumang a small village is located adjacent to the northwestern village of Pangandaran Ciamis District. For those of you who have a GPS, these coordinates input to guide you to the location Citumang, S 07 ˚ E 108 ˚ 38 674 32 090.
Plan your trip 3H/2M order to show you the optimal hunting and not too tiring. The best time to go to this location is the dry season, usually during the rainy season the sky is always overcast, also travel to the location of the wet and slippery.
On Day One, drive your vehicle into Pangandaran which of course is not foreign to you. Various types of accommodations were scattered in Pangandaran, I think you will not be difficult to find accommodation in this place.
The second day, Get the morning after breakfast, do not forget to bring a commissary for lunch, because there is no restaurant in Citumang. Buy a drinking water well enough, because there is no shop on site. Move your vehicle out of town towards the east of Pangandaran in the direction of Parigi. Approximately 15 km from Pangandaran you will find clues that indicate the road towards the right way to Parigi. Please remember!, Keep your vehicle speed after passing the gas station, because the signs pointing the way and the entrance is quite small.
Entering the small road leading to Citumang, you can search for objects landscape and human interest. Padi fields, rivers, forests, everything kumplit here. Want to make a water reflection photos can also well, but must wait until a little twilight. The lane is approximately 15 km in length, taken approximately one hour because there are some rather nasty road segment. Although the road is rather bad, Sedan type vehicles can still enter though a bit risky.
Arriving at the end of the road (dead end), parkirkan your vehicle, laporlah on the local community, walk towards the bridge, if you’ve never been to the location of the waterfall, a lease is a guide to take you to the location. Guides are usually paid voluntarily, depending on your willingness. Distance footpath from the parking location to the Curug citumang approximately 800m on foot. You will cross the fields, small bukit2, to reach the site. Arriving at airterjun, you can swim, diving from tree roots growing on the cave ceiling as high as five meters. The water here is very fresh, carefully rather slippery stones. After enjoying the scenery citumang satisfied, do not forget to pass the west coast of the sea to perpetuate bulak sunset at the beach
The third day, a time to eat at the fish market seafood Pangandaran for a cheap meal before returning back to your city.
Diposting oleh
nida99
di
06.30
Label: Travelling
CINA BENTENG
SEJARAH Cina Tangerang memang sulit dipisahkan dengan kawasan Pasar Lama (Jalan Ki Samaun dan sekitarnya) yang berada di tepi sungai dan merupakan permukiman pertama masyarakat Cina di sana. Struktur tata ruangnya sangat baik dan itu merupakan cikal-bakal Kota Tangerang. Mereka tinggal di tiga gang, yang sekarang dikenal sebagai Gang Kalipasir, Gang Tengah (Cirarab), dan Gang Gula (Cilangkap). Sayangnya, sekarang tinggal sedikit saja bangunan yang masih berciri khas pecinan.
Pada akhir tahun 1800-an, sejumlah orang Cina dipindahkan ke kawasan Pasar Baru dan sejak itu mulai menyebar ke daerah-daerah lainnya. Menurut Tagara Wijaya, yang bernama asli Oey Tjie Hoeng (77), yang menjabat Ketua Umum Klenteng Boen Sen Bio (1967-1978), Pasar Baru pada tempo dulu merupakan tempat transaksi (sistem barter) barang orang- orang Cina yang datang lewat sungai dengan penduduk lokal.Mengenai asal-usul kata Cina Benteng, menurut sinolog dari Universitas Indonesia, Eddy Prabowo Witanto MA, tidak terlepas dari kehadiran Benteng Makassar. Benteng yang dibangun pada zaman kolonial Belanda itu-sekarang sudah rata dengan tanah-terletak di tepi Sungai Cisadane, di pusat Kota Tangerang.
Pada saat itu, kata Eddy, banyak orang Cina Tangerang yang kurang mampu tinggal di luar Benteng Makassar. Mereka terkonsentrasi di daerah sebelah utara, yaitu di Sewan dan Kampung Melayu. Mereka berdiam di sana sejak tahun 1700-an. Dari sanalah muncul, istilah “Cina Benteng”.Meski demikian, menurut pemerhati budaya Cina Indonesia, David Kwa, mereka yang tinggal di luar Pasar Lama dan Pasar Baru itu tetap disebut sebagai Cina Benteng.
Sebagai kawasan permukiman Cina, di Pasar Lama dibangun kelenteng tertua, Boen Tek Bio, yang didirikan tahun 1684 dan merupakan bangunan paling tua di Tangerang. Lima tahun kemudian, 1869, di Pasar Baru dibangun kelenteng Boen San Bio (Nimmala).Kedua kelenteng itulah saksi sejarah bahwa orang-orang Cina sudah berdiam di Tangerang lebih dari tiga abad silam.
YANG unik dari masyarakat Cina Benteng adalah bahwa mereka sudah berakulturasi dan beradaptasi dengan lingkungan dan kebudayaan lokal. Dalam percakapan sehari-hari, misalnya, mereka sudah tidak dapat lagi berbahasa Cina. Logat mereka bahkan sudah sangat Sunda pinggiran bercampur Betawi. Ini sangat berbeda dengan masyarakat Cina Singkawang, Kalimantan Barat, yang berbahasa ina meskipun hidup kesehariannya juga banyak yang petani miskin.Logat Cina Benteng memang khas. Ketika mengucapkan kalimat, “Mau ke mana”, misalnya, kata “na” diucapkan lebih panjang sehingga terdengar “mau kemanaaaa”.
Yang khas dari masyarakat Cina Benteng adalah pakaian pengantin yang merupakan campuran budaya Cina dan Betawi. Pakaian pengantin laki-laki, kata Eddy, merupakan pakaian kebesaran Dinasti Ching, seperti terlihat dari topinya, sedangkan pakaian pengantin perempuan hasil akulturasi Cina-Betawi yang tampak pada kembang goyang.
SECARA ekonomi, masyarakat tradisional Cina Benteng hidup pas-pasan sebagai petani, peternak, nelayan, buruh kecil, dan pedagang kecil.
Diposting oleh
nida99
di
06.23
Label: Travelling

